Sabtu, 06 April 2013

Pengaruh penggunaan Metode Persediaan



 Dari data berbagai metode di atas, apabila setiap unitnya memiliki harga tetap, maka pasti seluruh metode tersebut pada akhirnya akan mendapat hasil dan saldo yang sama. Tetapi pada kenyataanya harga di pasaran yang terjadi selalu berubah-ubah, sehingga metode-metode tersebut menghasilkan jumlah yang berbeda untuk :
1.      Harga pokok penjualan pada periode berjalan.
2.      Laba kotor (dan laba bersih) dalam periode tersebut.
3.      Saldo persediaan akhir.
4.       
Contoh mengggunakan data di atas
PT. Putra Jaya
Laporan Laba Rugi (Sebagian)
Untuk periode yang berakhir 31 Mei 2004
Keterangan
FIFO
LIFO
Rata-Rata
Penjualan Bersih
HPP
    Persediaan-Awal
    Pembelian
    Barang TUD
    Persediaan-Akhir
      HPP
Laba Kotor


6.480.000
31.080.000
37.460.000
(8.940.000)
40.000.000





(28.620.000)
11.380.000


6.480.000
31.080.000
37.460.000
(7.920.000)
40.000.000





(29.640.000)
10.360.000


6.480.000
31.080.000
37.460.000
(8.680.000)
40.000.000





 (28.880.000)
11.120.000









1.      Penggunaan Metode FIFO
Ketika penggunaan metode FIFO selama periode inflasi (kenaikan harga-harga secara umum), produk yang dibeli lebih awal harganya lebih rendah dibanding dengan produk yang dibeli paling akhir (lihat contoh sebelumnya). Dengan demikian, persediaan akhir relatif tinggi (karena persediaan akhirnya merupakan Harga Pokok produk yang di beli pada akhir-akhir). Persediaan akhir yang relatif tinggi akan berpengaruh pada Harga Pokok Penjualan yang menjadi lebih rendah, hal ini mengakibatkan laba kotor pada suatu periode menjadi lebih tinggi. Tetapi hubungannya dengan pajak, mengakibatkan pembayaran pajak lebih besar daripada metode yang lainnya.

2.      Penggunaan Metode LIFO
Ketika penggunaan metode LIFO selama periode inflasi (kenaikan harga-harga secara umum), hasilnya berkebalikan dengan metode FIFO.  Berbeda dengan metode FIFO, dengan metode LIFO maka akan dihasilkan persediaan akhir relatif rendah (karena persediaan akhirnya merupakan Harga Pokok Produk yang di beli lebih awal). Persediaan akhir yang relatif lebih rendah akan berpengaruh pada Harga Pokok Penjualan menjadi lebih tinggi, sehingga akan berakibat pada laba kotor menjadi lebih rendah. Metode LIFO menawarkan penghematan dalam pajak, karena labanya lebih rendah dibanding dengan metode yang lainnya.
Saat ini metode LIFO sudah tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam perhitungan persediaan. Hal ini dikarenakan metode LIFO tidak sesuai dengan nilai Riil, karena mencatat persediaan akhir dengan Harga Pokok pada pembeliaan yang lebih awal, bahkan bisa jadi paling awal. Pada kenyataanya pembelian produk pada waktu awal-awal tentu akan memiliki Harga Pokok yang lebih rendah dan berbeda dengan harga pasar pada saat akhir periode. Karena Harga Pokok suatu produk relatif naik dari waktu ke waktu.

3.      Penggunaan Metode Rata-Rata
Pada dasarnya metode rata-rata ini merupakan kompromi antara metode FIFO dan LIFO.  Pengaruh kecenderungan harga diambil rata-ratanya dalam menghitung harga pokok penjualan dan persediaan akhir. Sehingga penggunaan metode rata-rata ini tidak terlalu berpengaruh dalam perhitungan persediaan akhir, harga pokok penjualan dan laba kotor seperti halnya metode FIFO dan LIFO. Tetapi metode rata-rata membuat perusahaan harus selalu menghitung harga rata-rata setiap melakukan pembelian baru.

1 komentar: